JAKARTA,KOMPAS.com – Cloud kitchen atau disebut juga ghost kitchen kian berkembang di tengah pandemi virus corona saat ini. 

Pengertian dari cloud kitchen adalah dapur yang ditujukan untuk membuat makan yang akan dijual melalui layanan pesan antar saja. 

Dapur bisa memproduksi makanan dari satu sampai beberapa merek restoran, disesuaikan dengan kebutuhan.

Susanty Widjaya, Certified Franchise Experts, Ketua Pengembangan Resto Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) sekaligus Ketua Asosiasi Lisensi Indonesia (ASENSI) mengatakan cloud kitchen memberi dampak kepada restoran konvensional atau restoran offline yang sedang merugi saat ini.

Cloud kitchen menjadi trending topic saat ini sebagai usaha kuliner yang bisa memangkas biaya sewa restoran,” jelas Susanty Widjaya kepada Kompas.com, Sabtu (21/6/2020). “Seperti yang kita ketahui adanya pandemi covid-19 ini biaya sewa semakin tinggi,” jelasnya. Susanty sekaligus CEO dari Batavia Cafe, Batavia Coffee, B Cafe ini juga memaparkan jika banyak tempat sewa di mal tidak memberikan potongan atau menurunkan harga di tengah pandemi.

Banyak pengusaha makanan saat ini mengakali hal tersebut dengan mulai beralih menggunakan sistem cloud kitchen. “Saat semua beralih ke cloud kitchen, yang dikhawatirkan oleh pemilik usaha restoran adalah konsumen tidak tertarik dengan dine in lagi, sehingga mereka akan rugi mengeluarkan biaya sewa,” paparnya. Sebab cloud kitchen disebutkan Susanty memberi kemudah dan dianggap praktis untuk orang yang ingin membeli makanan.

“Cloud Kitchen bisa menambah variasi layanan makanan sehingga orang tidak perlu repot-repot masuk mal dan membeli, tetapi hal ini bisa merugikan bagi para pemilik restoran,” papar CEO Bakmi Naga Resto. Pemilik restoran offline sudah mengalami kerugian ditengah pandemi ini karena semua pengunjung tidak bisa hadir untuk dine in. Apa lagi protokol kesehatan mengharuskan tempat makan hanya diisi 50 persen dari kapasitas ruang. Namun pemilik usaha harus membayar sewa dengan harga penuh.

“Menurut saya hal itu merugikan untuk restoran offline, ditambah kita harus menanggung biaya SDM (Sumber Daya Manusia), Mei kemarin harus memberi THR (Tunjangan Hari Raya),” jelas Susanty. Namun di sisi lain, cloud kitchen bisa menjadi solusi bagi pemilik restoran offline. Sebab banyak biaya yang akan terpotong mulai dari sewa tempat, tidak perlu membayar gaji karyawan, biaya listrik dan lain-lain. Selain itu dapur yang digunakan juga bisa menggunakan dapur sendiri yang ukurannya bisa disesuaikan dengan kebutuhkan. Susanty menyatakan jika sudah ada beberapa perusahaan yang berpindah dari restoran konvensional menjadi cloud kitchen.

Jika dilihat dari sisi konsumen, cloud kitchen  dinilai efektif dalam hal membeli makan. Lewat cloud kitchen konsumen hanya perlu memesan makanan dari rumah lalu bisa langsung diantar oleh layanan pesan antar atau aplikasi ojek online. Kemudian makanan sudah langsung ada di depan rumah. Di sisi ini cloud kitchen sangat membantu konsumen dalam memberikan kemudahan membeli makanan. Selain itu konsumen tetap bisa menikmati layanan ini dengan harga terjangkau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *